PLTN di Indonesia: Antara Realita dan Mimpi

Berbicara Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia itu seperti hendak mendatangkan bencana besar. Sejak masih mahasiswa di UGM, isu pembangunan PLTN sudah menjadi wacana. Isu ini sempat menghangat dengan munculnya berbagai aktivis yang menolak penggunaan energi nuklir ini, dan kemudian pendukung PLTN sempat saling berbalas-balasan tulisan di media cetak dan internet, hingga sekarang tidak diketahui nasib dan kelanjutannya.

Citra PLTN sudah terlanjur negatif di benak masyarakat. Jangankan PLTN, jika Anda adalah mahasiswa teknik nuklir, pasti Anda pernah mendengar nasihat dari teman untuk segeralah menikah, karena bahaya radiasi mengancam kesuburan Anda. Ada juga trademark bahwa lulusan teknik nuklir adalah perakit-perakit bom nuklir handal yang siap untuk jadi teroris. Sungguh luar biasa buruk pencitraan terhadap kata nuklir. Kalau boleh dilakukan pendataan, pastilah lulusan teknik nuklir sama seperti lulusan teknik lainnya, memiliki keturunan, dan belum ada lulusan teknik nuklir yang ditangkap oleh badan intelijen karena keterlibatan dalam jaringan teroris nasional apalagi internasional. Lagipula sangat tidak masuk di akal jika Universitas favorit seperti UGM ternyata juga menciptakan ahli-ahli perakit bom nuklir.

More

Telaah – Perkembangan Nuklir Indonesia

Sumber http://www.antara.co.id

Oleh: Adjar Irawan S Hidayat, pemerhati nuklir, alumni Fisika ITB tahun 1967, operator angkatan pertama reaktor Triga Mark II tahun 1964, dan Ketua Asosiasi PBB Indonesia (United Nations Association in Indonesia) sejak 1973-sekarang. Dia juga peraih Piagam Pembawa Pesan Perdamaian (Peace Messenger) PBB tahun 1994.

Bulan Oktober 1964, bangsa Indonesia mulai berbicara tentang reaktor nuklir, terhitung sejak “criticality-experiment” terhadap reaktor nuklir pertama Triga Mark II di Bandung berhasil dilakukan dengan baik.

Pemimpin percobaan Djali Ahimsa menulis dalam “log-book” tertanggal 16 Oktober 1964 : 18.37,5?, predict 57,5 critical. Catatan itu menunjukkan bahwa pada jam tersebut sebanyak 57,5 batang elemen bakar nuklir (berisi 2,3 kg U-235) telah dipancingkan ke dalam teras reaktor dan pada kondisi itu reaksi inti yang berkesinambungan tepat sudah bisa terjadi. Besaran 2,3 kg U-235 disebut bobot-kritis. Kritis di sini tidak ada kaitannya dengan bahaya. Jauh hari kemudian, kepala proyek pembangunan reaktor Triga, Djali Ahimsa, menjadi Dirjen Batan. Ketika itu, para pakar yang terlibat bersorak gembira dan lega.

More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.